Naskah Angling Darma Ambya Madura
Ghazali, Abdus Syukur, (2001) Naskah Angling Darma Ambya Madura. Sari (ATMA), 19 . pp. 85-107. ISSN 0127-2721 Official URL: http://pkukmweb.ukm.my/~penerbit/jsari19-05.pdf AffiliationsUniversitas Negeri Malang, Fakultas Sastra, Pensyarah, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Indonesia. AbstractThis paper examines the Madurese version of Angling Darma, a Javanese story about the life of a king who leaves his kingdom as dharma to expiate his sins. It is written in Madurese dialect of Sumenep and is assumed to have been
rewritten in a different form with adaptation and adoption of many words and expressions from the Javanese language. The existence of this version refutes Drewes’s claim that only the Javanese version without any Islamic features, is
found in Madura. An examination of the text reveals that Islamic features are apparent either directly (such as reference to the Prophet) or indirectly. This text consists of eight parts of written tembang. Types and numbers of tembang for each ‘canto’ (division of poems) vary from one to the other, depending on the variation and length of events narrated.
Angling Darma adalah cerita Jawa yang mengisahkan perjalanan seorang raja yang terpaksa meninggalkan kerajaannya sebagai dharma untuk menebus dosa-dosa yang dilakukannya. Angling Darma Ambya Madura ditulis dalam
bahasa Madura dialek Sumenep.Oleh kerana prosespenulisannya yang diduga melalui teknik penyaduran, versi Madura ini banyak sekali menggunakan kata dan ungkapan yang diadaptasi dari bahasa Jawa, sehingga kata dan ungkapan Jawa itu mengalami metamorfosis bentuk, dan mungkin sekali juga maknanya. Tulisan ini ingin menunjukkan ciri-ciri Islam yang
menurut Drewes tidak terdapat dalam naskah sejenis Angling Darma versi Jawa yang ditemui dalam versi Madura. Warna Islam itu wujud dengan dua cara, iaitu (1) secara jelas mengacu langsung unsur Islam dengan menyebut nama Nabi Sulaiman, dan (2) tidak dengan jelas menyebut unsur Islam,
sehingga kehadirannya merupakan hasil penafsiran penulis belaka. Teks ini dibahagikan kepada lapan bahagian dan ditulis dalam bentuk tembang. Penggunaan tembang pada setiap canto (potongan rangkaian puisi) tidak sama macam dan jumlahnya, bergantung kepada ragam dan panjang peristiwa
yang diceritakan. Repository Staff Only: item control page
|